OPINI – Akhirnya, senja pun datang.
Kukira masih nanti,
Kusangka masih lama.
Namun waktu tak menunggu,
perlahan tapi pasti, ia menggiring langkah kita menuju batas yang tak bisa dihindari.
waktu tak pernah berkompromi. Ia mengalir tanpa menoleh ke belakang, membawa kita dari pagi kehidupan menuju senja yang tak terelakkan. Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu—untuk belajar, untuk memperbaiki diri, untuk menunaikan janji-janji yang belum tertunaikan.
Tetapi, bagaimana jika ternyata esok tak lagi datang?
Bagaimana jika hari ini adalah kesempatan terakhir untuk menata diri?
Bagaimana jika inilah senja terakhir sebelum gelap menyelimuti?
Betapa sering kita merasa masih punya banyak kesempatan, masih banyak waktu untuk mencari cahaya, untuk menggali pemahaman, untuk memperbaiki langkah. Kita beranggapan bahwa hidup ini masih panjang, bahwa hari esok selalu tersedia bagi kita. Namun Allah telah menetapkan setiap perjalanan, dan ketika waktunya tiba, tak ada yang bisa menundanya.
Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”
(QS. Al-A’raf: 34)
Lalu, apakah kita sudah benar-benar siap ketika batas itu tiba?
Ataukah kita masih terjebak dalam kesibukan dunia, berpikir bahwa waktu masih panjang?
Menyesali Waktu yang Terlewat
Betapa sering kita menunda kebaikan,
betapa sering kita menutup telinga dari panggilan Tuhan,
betapa sering kita mengabaikan suara hati yang meminta kita untuk kembali.
Berapa banyak janji kepada diri sendiri yang belum kita tepati?
Berapa banyak amanah yang belum kita selesaikan?
Berapa banyak waktu yang telah terbuang untuk hal-hal yang tak bermakna?
“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya belaka.”
(QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Di akhir perjalanan, barulah kita sadar bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan, bahwa segala yang kita kejar dengan susah payah tak lebih dari fatamorgana.
Tetapi, apakah kesadaran ini datang terlambat?
Mengisi Sisa Waktu dengan Cahaya
Senja adalah pengingat, bahwa setiap perjalanan memiliki akhir.
Tetapi senja juga adalah kesempatan,
kesempatan untuk menyalakan kembali cahaya yang meredup,
kesempatan untuk menebus kesalahan sebelum semuanya benar-benar usai.
Sudahkah kita menggunakannya dengan baik?
- Sudahkah kita meminta maaf kepada mereka yang pernah kita sakiti?
- Sudahkah kita memaafkan mereka yang pernah menyakiti kita?
- Sudahkah kita bersujud lebih lama, mengakui kelemahan di hadapan-Nya?
- Sudahkah kita meninggalkan jejak kebaikan yang akan tetap hidup setelah kita tiada?
Ingatkan diri kita dengan ayat NYA
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Luqman: 8-9)
Bila Harus Beranjak, Beranjaklah dengan Lapang
Tak ada yang kekal di dunia ini, kecuali apa yang telah kita tanam sebagai bekal.
Maka jika saatnya tiba,
jika kita harus beranjak dari dunia yang fana,
beranjaklah dengan hati yang lapang,
dengan jiwa yang telah bersih,
dengan tangan yang telah menebar kebaikan.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)
Kelak, kita semua akan pergi.
Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak esok,
tetapi pasti akan tiba saatnya.
Semoga ketika waktu itu datang,
kita pergi dengan membawa cahaya,
bukan dengan tangan kosong yang penuh penyesalan.
Menyadari Kepergian yang Pasti
Kita sering berpikir bahwa ada lebih banyak hari untuk mengisi hidup, lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita ingin menunda perubahan, mengulur waktu untuk kembali kepada-Nya, seolah-olah kematian bisa menunggu.
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh.”
(QS. An-Nisa: 78)
Namun, nyatanya senja datang lebih cepat dari yang kita kira. Waktu yang kita harap masih panjang ternyata begitu singkat. Hari yang kita kira masih jauh ternyata telah begitu dekat.
Lalu, sudahkah kita siap?
Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap detik, setiap hela napas, setiap langkah telah ditakar oleh Allah. Senja kehidupan bukanlah akhir, melainkan pintu menuju perjumpaan dengan-Nya.
Maka sebelum malam benar-benar tiba, sebelum waktu habis tanpa makna, biarkan cahaya-Nya tetap menyala dalam hati.
- Bersihkan jiwa dari segala beban dosa.
- Luruskan niat dalam setiap langkah.
- Gunakan sisa usia untuk berbuat kebaikan.
Beranjak Menuju Keabadian
Tak ada yang kekal di dunia ini, kecuali apa yang telah kita tanam sebagai bekal. Bila harus beranjak, beranjaklah dengan hati yang lapang.
Sekali lagi Ingatkan diri kita dengan ayat NYA,,,,,,
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)
Senja hanyalah bagian dari perjalanan.
Dan kelak, kami pun akan menyusul di belakang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam orang-orang yang meninggalkan dunia ini dalam keadaan ridha dan diridhai.
Aamiin.
Oleh : Saleh Brik Zubaidi (Pemerhati/ Pengusaha dan Owner Sirup Pala Cielo)
Komentar