• Kayu Putih II, Jakarta Timur
  • 0813-1913-0107
  • JurnalRealitas.com
  • 18 April 2021
0 Comments 20

Jurnalrealitas.com – Insiden keracunan makanan yang mematikan ini terjadi di sekolah negeri di desa Marakh, distrik Saran. Penyelidikan kini digelar dan uang kompensasi sebesar 200.000 rupee atau sekitar Rp35 juta ditawarkan untuk keluarga korban tewas.

Sekitar 28 anak-anak dibawa ke rumah sakit di kota terdekat di ibukota Chapra, Patna, setelah insiden ini. Totalnya ada 47 pelajar di sekolah dasar desa Dharmasati Gandaman yang jatuh sakit setelah memakan makan siang gratis pada Selasa kemarin.

Skema Makan Siang di sekolah India merupakan kebijakan pemerintah untuk menyediakan makan gratis guna mendorong kehadiran siswa di sekolah, tetapi seringkali dengan kadar kebersihan yang buruk.

Ada kekhawatiran korban tewas akan meningkat karena kebanyakan anak-anak, semuanya berusia di bawah 12 tahun, dalam kondisi kritis. Ayah salah satu anak yang sakit, Raja Yadav, mengatakan anaknya muntah setelah kembali dari sekolah dan langsung dibawa ke rumah sakit.

Dokter yang merawat menyebut ”keracunan makanan” sebagai penyebab kematian. “Kami menduga akibat keracunan makanan yang ditimbulkan dari insektisida yang terdapat di sayur atau nasi,” kata Amarjeet Sinha, seorang pejabat senior dinas pendidikan kepada BBC.

Seorang dokter lainnya di rumah sakit di Patna mengatakan minyak sayur yang terkontaminasi bisa menyebabkan keracunan makanan. Wartawan setempat melaporkan kasus keracunan makanan terhadap pelajar juga pernah terjadi sebelumnya.

Kepala Menteri Bihar Nitish Kumar langsung menggelar pertemuan darurat dan memerintahkan ahli forensik untuk melakukan penyelidikan di kawasan termiskin dan terpadat di India ini.

Program Makan Siang gratis di India merupakan program terbesar di dunia ditujukan untuk 120 juta pelajar di 1,2 juta sekolah di India. Program ini pertama kali dikenalkan untuk anak-anak miskin di kawasan selatan kota Chennai pada tahun 1925. Korban tewas diperkirakan akan bertambah karena banyak anak dalam kondisi kritis (red)

Sumber: BBC News

Share this...
Email this to someone
email
Print this page
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.