• Kayu Putih II, Jakarta Timur
  • 0813-1913-0107
  • JurnalRealitas.com
  • 17 April 2021
0 Comments 32

JURNALREALITAS.COM, JAKARTA – Tak lama lagi umat Islam di Indonesia menyambut datangnya Ramadhan 1442 Hijriah atau 2021. Penentuan awal Ramadhan di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang sedianya akan dilaksanakan pada 12 April 2021. Musyawarah dilakukan Kementerian Agama dengan ormas Islam, serta pakar di bidang falak / astronomi dan instansi terkait, membahas permulaan bulan Ramadhan. Lantas, kapan awal puasa 2021 dan bagaimana cara menentukan awal Ramadhan.

Awal Puasa 2021 Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1442 H atau bulan Puasa 2021 jatuh pada Selasa Wage, 13 April 2021. Hal tersebut disampaikan dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.0/E/2021 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1442 Hijriah.

Dari ijtimak tersebut, jelang Ramadhan Hijriah terjadi pada Senin, 12 April 2021 pukul 09.33.59 WIB. Adapun tinggi bulan saat terbenam matahari di Yogyakarta, hilal sudah wujud dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam matahari itu bulan berada di atas ufuk. Kemudian ijtimak jelang Syawal 1442 H terjadi pada Rabu Pon, 12 Mei 2021 pukul 02.03.02 WIB. Sehingga, 1 Syawal 1442 H atau Idul Fitri, ditetapkan jatuh pada Kamis Wage, 13 Mei 2021.

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama masih belum menetapkan awal Ramadhan 1442 H. Sementara, Kementerian Agama (Kemenag) telah mengumumkan bahwa sidang isbat penentuan awal Ramadhan 2021 akan digelar pada 12 April mendatang Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Kamaruddin Amin.

“Untuk Isbat awal Ramadhan 1442 H pada tanggal 12 April 2021 M,” kata Kamaruddin.


Cara menentukan awal Ramadhan Kalender Hijriah yang digunakan oleh umat Islam berbasiskan pada peredaran bulan. Oleh karena itu, penentuan awal bulan pada kalender Hijriah dilandaskan pada penampakan hilal atau bulan sabit muda. Ada dua metode untuk mengetahui penampakan hilal, yakni: Hisab Rukyat Kasubdit Hisab dan Rukyat Bimas Islam Kemenag Ismail Fahmi mengatakan, hisab adalah metode menghitung posisi benda langit, khususnya matahari dan bulan. Rukyat adalah observasi benda-benda langit untuk memverifikasi hasil hisab.

 “Dua metode tersebut adalah saling menguatkan, bahkan seperti dua sisi mata uang,” kata Ismail.

Kendati demikian, berkaca dari pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, metode hisab dan rukyat pernah beberapa kali menghasilkan hasil berbeda dalam penentuan tanggal awal dan akhir Ramadhan. Ismail mengatakan, Kemenag berharap agar hasil hisab maupun rukyat tidak berbeda. “Diharapkan tidak berbeda, jika berbeda diharapkan bisa saling menghormati dan menghargai,” kata Ismail. (mg)

Share this...
Email this to someone
email
Print this page
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.