JAKARTA – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Penasehat Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD), Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengingatkan HUT ke-9 HIPAKAD merupakan saat yang tepat untuk memperluas makna bela negara sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, ancaman terhadap bangsa semakin beragam, sementara peluang dari bonus demografi juga semakin besar. Keduanya membutuhkan generasi muda yang tangguh, terampil, kritis, dan memiliki karakter kebangsaan.
Bela negara pada masa kini juga tidak cukup dimaknai sebagai kesiapan menghadapi ancaman fisik dan bersenjata. Ruang digital telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat sekaligus medan baru yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penipuan, pencurian data, penyebaran hoaks, propaganda, manipulasi informasi, hingga serangan siber. Karena itu, kemampuan menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari ancaman digital juga merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
“Ancaman terhadap bangsa tidak hanya berupa serangan fisik, tetapi bisa masuk melalui telepon genggam dalam bentuk hoaks, penipuan, pencurian data, deepfake, atau manipulasi informasi. Karena itu, bela negara harus mengikuti perkembangan zaman. Menjaga ruang digital agar tetap aman, sehat, dan tidak menjadi alat pemecah persatuan juga merupakan bentuk bela negara,” ujar Bamsoet saat menghadiri perayaan HUT ke-9 HIPAKAD di Jakarta pada Senin (21/9/26)
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini memaparkan, besarnya ancaman ruang digital terlihat dari aktivitas siber yang terus meningkat. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat sekitar 5,16 miliar anomali atau aktivitas trafik internet yang terindikasi berpotensi menjadi ancaman siber. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya lalu lintas aktivitas yang harus diawasi dalam ekosistem digital Indonesia.
Selain itu, perkembangan artificial intelligence turut menghadirkan tantangan baru. Teknologi AI generatif dapat membantu pekerjaan manusia, meningkatkan produktivitas, dan membuka lapangan inovasi baru. Namun teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk membuat video deepfake, meniru suara, memanipulasi foto, membuat identitas palsu, serta memproduksi informasi yang tampak meyakinkan meskipun tidak pernah terjadi.
“Generasi muda harus menguasai teknologi sekaligus memahami risikonya. Jangan sampai kita mahir menggunakan AI tetapi mudah tertipu oleh hasil manipulasi AI. Kemampuan memeriksa sumber informasi, berpikir kritis, menjaga data pribadi, dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya sekarang menjadi keterampilan penting,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, HIPAKAD dapat mengambil peran memperkuat bela negara melalui pendidikan kebangsaan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kegiatan organisasi dapat diarahkan pada literasi digital, pendidikan kebangsaan, pelatihan AI, keamanan siber, kewirausahaan, sertifikasi keterampilan, olahraga, pendidikan vokasi, hingga pengabdian masyarakat. Dengan demikian, semangat bela negara dapat hadir dalam bentuk yang konkret dan dirasakan langsung masyarakat.
“Anggota HIPAKAD harus didorong menjadi generasi yang berpendidikan, berkarakter, mandiri, produktif, dan mampu berkompetisi secara global. Nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan, dan pengabdian yang diwariskan keluarga prajurit harus diwujudkan menjadi prestasi di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, olahraga, kewirausahaan serta bidang lainnya,” pungkas Bamsoet. (Megy)



Comment