JAKARTA – Seiring dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap percepatan peningkatan produksi pangan atau swasembada pangan, SUTA Nusantara sudah membentuk Satuan Kerja, pertama Satuan Kerja Pendampingan Manajemen Usaha Tani Terpadu (SPMUT2) di 20 Kabupaten di banten Jabar Jateng Jatim dan Sumsel, kedua Satuan Kerja Pendampingan Manajemen Produksi Dan Distribusi Beras Sehat (SPMPDBS) di beberapa daerah, diantaranya: Kabupaten Kuningan, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kabupten Cianjur, Kabupaten Bogor Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pekalongan Kabupatn Pati, Kabupaten Pasuruan Kabupaten Malang dan Kabupaten Tulung Agung.
Hal tersebut diatas disampaikan oleh Ketua Umum KMP Suta Nusantara Dadung Hari Setyo kepada awak media di Jakarta pada Sabtu (13-12-2025). Dadung Hari Setyo mengatakan dalam diklat SUTA Nusantara akan memberikan materi khusus yaitu pola pengembangan ekonomi sirkuler dalam manajemen usaha tani terpadu dan sentra produksi dam distribusi beras sehat.
“Kami sangat yakin, bahwa pola pengembangan ekonomi sirkuler akan memberikan hasil yang maksimal kepada para pelaku usaha pertanian, karena ekonomi sirkuler memiliki akar yang panjang dan kompleks, namun beberapa konsep dan ide yang terkait dengan ekonomi sirkuler.
- 1960-an: Konsep “ekonomi sirkuler” pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Amerika, Kenneth Boulding, dalam artikelnya “The Economics of the Coming Spaceship Earth”.
- 1970-an: Konsep “ekonomi sirkuler” mulai dikembangkan lebih lanjut oleh ekonom dan ahli lingkungan, seperti Herman Daly dan Donella Meadows.
- 1980-an: Konsep “ekonomi sirkuler” mulai diterapkan dalam praktik, terutama dalam bidang pengelolaan limbah dan pengurangan polusi.
- 1990-an: Konsep “ekonomi sirkuler” mulai dikembangkan lebih lanjut oleh organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
- 2000-an: Konsep “ekonomi sirkuler” mulai diterapkan dalam skala yang lebih luas, terutama dalam bidang industri dan pemerintahan.
- 2010-an: Konsep “ekonomi sirkuler” menjadi semakin populer dan diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, pemerintahan, dan masyarakat sipil”, ulas Dadung Hari Setyo
Dalam konteks Indonesia, ekonomi sirkuler mulai diterapkan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam bidang pengelolaan limbah dan pengurangan polusi. Beberapa contoh penerapan ekonomi sirkuler di Indonesia adalah:
- Program pengelolaan limbah yang efektif untuk mengilangkam kontaminasi lingkungan
- Pengembangan industri daur ulang teritama sampah organik atau sampai hasil pertanian
- Program pengurangan polusi di industri di sekutar lahan pertanian.
“Dengan demikian, ekonomi sirkuler telah menjadi konsep yang semakin penting dalam pembangunan berkelanjutan di masyarakat”, papar Ketum KMP Suta Nusantara yang akrab disapa dengan Masda ini
Dengan konsep ekonomi sirkuler ini sangat tepat untuk di manajemen usaha tani terpadu dan senyra produksi dan distribusi beras sehat.
Konsep Ekonomi Sirkuler SUTA Nusantara
SUTA Nusantara menerapkan konsep ekonomi sirkuler dalam pengembangan usaha tani terpadu dengan cara:
- Penggunaan sumber daya yang efisien: Menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif untuk mengurangi konsumsi sumber daya.
- Pengurangan limbah: Mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
- Pengembangan produk yang berkelanjutan: Mengembangkan produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
- Pengelolaan limbah yang efektif: Mengelola limbah secara efektif untuk mengurangi dampak lingkungan.
SUTA Nusantara juga menerapkan beberapa strategi dalam ekonomi sirkuler, yaitu:
- Pengembangan usaha tani terpadu: Mengembangkan usaha tani terpadu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
- Peningkatan kualitas produk: Meningkatkan kualitas produk pertanian untuk meningkatkan nilai jual.
- Peningkatan kesejahteraan masyarakat: Meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan meningkatkan kualitas hidup.
- Pengembangan infrastruktur dan Tehnologi Tepat Daya Guna: Mengembangkan infrastruktur dan tehnologi tepat daya guna pertanian untuk meningkatkan aksesibilitas dan meningkatkan kualitas produktifitas pangan serta menekan biaya produksi.
“Dengan demikian, SUTA Nusantara berharap dapat meningkatkan ekonomi dan me jamin sistem kesejahteraan masyarakat petani dan mengembangkan usaha tani yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia”, ulas Masda menutupi. (Megy)



