OPINI – Perekonomian Indonesia menghadapi tekanan ganda pada semester pertama tahun 2026. Kenaikan laju inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, penyempitan kinerja perdagangan luar negeri, serta keterbatasan ruang anggaran menjadi tantangan utama di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan pergerakan harga energi dunia.
Data Badan Pusat Statistik (1 Juni 2026) menunjukkan tingkat inflasi pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan posisi bulan April yang tercatat sebesar 2,42 persen. Kenaikan ini utamanya dipicu oleh naiknya harga kebutuhan pokok, bahan bakar non-subsidi, dan biaya transportasi, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.950 per dolar AS pada pertengahan Juni 2026, menjadi posisi terendah dalam dua tahun terakhir menurut laporan Bank Indonesia (20 Juni 2026). Sebagai langkah pengendalian, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 5,25 persen, guna menjaga stabilitas mata uang dan menahan arus keluar modal.
Kinerja perdagangan luar negeri juga melambat secara signifikan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Bank Indonesia (Mei 2026), surplus neraca perdagangan pada April 2026 hanya tercatat US$90 juta, jauh menurun dibandingkan bulan Maret yang mencapai US$3,32 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar global serta meningkatnya biaya impor bahan baku dan energi.
Dari sisi keuangan negara, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan Bank Dunia (Juni 2026) melaporkan bahwa biaya subsidi energi diperkirakan akan menembus Rp450 triliun pada tahun ini. Besaran ini menyempitkan ruang alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan program bantuan sosial bagi masyarakat.
Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup baik di 5,61 persen menurut Badan Pusat Statistik (5 Mei 2026), lembaga riset LPEM-FEB UI, OECD, dan IMF memproyeksikan laju pertumbuhan akan melambat ke kisaran 4,7–5,0 persen hingga akhir tahun. Indeks PMI Manufaktur juga turun ke angka 49,1 pada April 2026, menandakan adanya perlambatan aktivitas produksi industri, menurut data IHS Markit (5 Mei 2026).
Para pengamat ekonomi menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pengendalian laju inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berkelanjutan dan dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Oleh: Dina, SE, MM (Dosen FE Unpam)



Comment