Akselerasi Gerakan Pemuda Katolik Masuki Tahun Toleransi, dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Nasional

JURNALREALITAS.COM JAKARTA – Pemuda Katolik telah melewati berbagai dinamika dan keterlibatannya dalam pelbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, dan budaya dalam bingkai NKRI.

Menapaki 76 tahun Pemuda Katolik berkiprah di tanah air adalah sebuah keniscayaan di tengah ragam persoalan bangsa. Tentunya membutuhkan respon
yang lebih aktif dengan tetap mengakar pada ideologi bangsa yakni Pancasila, dan diharapkan visi dan misi bangsa ini menjadi pengikat setiap kader Pemuda Katolik. Sebagai kader Katolik yang terlibat dalam kehidupan berbangsa, mengalami dan merefleksikan realitas nasional-global menuju organisasi pemuda Katolik yang transformatif maka dibutuhkan semangat
“Lahir kembali/ semangat kembali/ Reborn and Grow Further” dengan memperhatikan program- program internal khususnya clustering kader, afirmasi sumber daya organisasi, unit kerja dan incubator bisnis, serta kelembagaan riset dan kebijakan publik.

Dalam perspektif konstitusi yang lebih luas lagi, Pemuda Katolik menjadi pelopor dan penggalang kehidupan yang rukun, damai penuh kasih, toleransi sejati dan kerjasama positif dalam setiap bidang
kehidupan khususnya pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19.

Pesan ini menguat dalam Pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik periode 2021-2024 yang mengambil tema, “Akselerasi Gerakan Pemuda Katolik Memasuki Tahun Toleransi dan Tantangan
Pemulihan Ekonomi Nasional”.

Menurut Ketua Panitia Melkianus Da Costa Pirez tema ini sejalan dengan program pemerintah pusat yang mencanangkan tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi. Pemerintah ingin menjadikan Indonesia
sebagai barometer kehidupan yang rukun dan harmonis di dunia.

“Maka itu ada program moderasi beragama sebuah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang terhindar dari perilaku ekstrem atau sikap berlebihan,” ucap Pirez.

Selanjutnya, kata Pirez, selain usaha untuk mendorong para penganut beragama untuk mengambil “jalan tengah” agar tidak ekstrem, menurutnya Pemuda Katolik juga harus terlibat dalam pemulihan ekonomi nasional. Badai Covid-19 memberi Pemuda Katolik kesempatan untuk reset and reshape
perjalanan organisasi di tengah dinamika bangsa khususnya di masa pandemi ini.

“Pemuda Katolik ingin, bersama-sama anak bangsa lain recover together khususnya di bidang ekonomi baik itu produktivitas, peningkatan ketahanan, dan memastikan stabilitas ekonomi,” sebut Pirez.

Menyinggung soal acara pelantikan, Pirez menambahkan, dari total 80 calon Pengurus Pusat yang akan dilantik di Hotel Swiss – Belinn Kemayoran, Jakarta, Senin, 10 Januari 2022, tapi yang hadir adalah
59 kader dari setiap perwakilan daerah di seluruh Indonesia. Para kader dilantik oleh Kardinal Ignatius Suharyo, sekaligus Ketua Konferensi Waligereja.

Turut hadir dalam pelantikan ini Dewan Pakar dan Dewan Pembina Pemuda Katolik, sejumlah tokoh legislatif, tokoh Katolik, dan tamu undangan lainnya.
Pelantikan ini akan dipuncaki dengan Perayaan Ekaristi. Mewakili Pengurus Pusat, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma
dalam pesannya mengatakan secara institusional, Pemuda Katolik adalah organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang memiliki kader dari berbagai latar dan kalangan etnis yang tersebar di semua wilayah NKRI dari tingkat Pusat hingga ke lingkup desa.

Pemuda Katolik dalam gerakan organisasinya bernapaskan doktrin dan ajaran Gereja Katolik, tetapi secara praktek, ia tetap bergerak dalam rel ideologi Pancasila dan konstitusi negara. Berkaca dari semangat ini, kedepannya para kader Pemuda Katolik harus menjadi kader-kader Katolik intelektual yang berpikir dan bertindak inklusif sebagai konsekuensi logis dari kiprah dan tanggung jawab kelompok awam.

Terlebih harus disadari penuh bahwa Katolik adalah bagian dari struktur kebangsaan yang ada di Indonesia.

Menurut Gusma, sebagai anak bangsa, Pemuda Katolik berkomitmen untuk terlibat dalam merancang dan menjalankan program- program internal organisasi dan mendukung program- program pemerintah, khususnya yang tercantum dalam Prolegnas Prioritas Pemerintah tahun 2022.

Gusma menyebutkan, ada beberapa point-point akselerasi yang menjadi konsen utama dari Pemuda Katolik, di
antaranya:
Pertama, Tahun Toleransi- diharapkan Pemuda Katolik berani memperkuat muatan moderasi beragama dengan memajukan kehidupan umat beragama yang diwujudkan dalam sikap hidup amanah, adil, serta menebarkan keadilan dan kasih sayang. Menjunjung tinggi keadaban mulia dengan menjadikan
pokok ajaran agama sebagai pandangan hidup dengan tetap berpijak pada jati diri bangsa. Selanjutnya menghormati harkat dan martabat manusia dengan mengutamakan sikap memanusiakan manusia.
Kedua, mendukung Penyatuan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Elemen-elemen OKP, sebagai garda terdepan bangsa, perlu bersatu mengawal NKRI. Kalau ada perbedaan, sifatnya
dialektis, jangan sampai meniadakan satu dengan yang lain atau menyerang kelompok yang lain. Sebab bila terpecah akan sulit menyatukan pandangan.
Ketiga, Pemilu Serentak. Pemuda Katolik selain menjadi wadah pengkaderan harus mampu bertransformasi menjadi perahu konsolidasi kader Katolik melalui dua gerakan strategis yakni, pembangunan dan penguatan etalase politik Katolik dan etalase politik konsolidasi. Upaya pembangunan dan penguatan etalase politik Katolik akan menyasar wilayah- wilayah basis kader Katolik yang secara politik memiliki kekuatan cukup. Modal dasar ini membutuhkan manajemen dan konsolidasi yang rapi untuk menjaga ritme pengkaderan hingga penyaluran kader dari level terbawah hingga pusat. Sementara itu, dukungan kepada kader-kader di wilayah-wilayah non basis akan menjadi konsentrasi program penguatan etalase politik konsolidasi.
Keempat, Isu Papua. Untuk mendorong akselerasi organisasi, struktur resmi organiasi akan didorong dengan metode kerja yang lebih terukur dalam beberapa unit kerja. Salah satu unit kerjanya adalah Gugus Tugas Isu Kebangsaan, HAM dan Papua. Kejar-kejaran infrastruktur di Papua sudah berlangsung lama tetapi tetap meninggalkan blueprint pembangunan manusia dan kesejahteraan yang belum jelas. Pola pendekatan yang digunakan nyaris sama disetiap periode kekuasaan, dan hingga hari ini menyisakan kasus kekerasan yang berulang, dan kesejahteraan yang belum merata. Gerakan pemberdayaan generasi muda Papua perlu digenjot sebagai upaya bersama penguatan kapasitas orang
muda di Papua selaku lokomotif perbaikan persepsi, baik terhadap maupun dari masyarakat Papua, sebagai bagian dari komunitas Nusantara.
Kelima, Pemerintah dan DPR telah menyepakati Prolegnas RUU perubahan Ketiga Thaun 2020- 2024 sebanyak 40 RUU. Pemuda Katolik memastikan diri mendukung setiap kebijakan pemerintah untuk mengawal RUU prioritas yang diusulkan pemerintah seperti RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
Keenam, program internal yaitu Distribusi kader. Potensi kader yang tersebar dan belum terkonsolidasi sebagai satu kesatuan untuk bergerak secara kolektif, maka target paling utama adalah adanya database kader sesuai potensi dan kompetensi. Pola dan sistem distribusi yang paten dan bergerak secara sehat. Hubungan strategis dengan institusi dan Lembaga mitra resmi maupun swasta. (Denny Pohan)