• Kayu Putih II, Jakarta Timur
  • 0813-1913-0107
  • Jurnalrealitas.com
  • 6 May 2021
0 Comments 37

JURNALREALITAS.COM, SIMALUNGUN – Dana Desa yang dikucurkan pemerintah pusat melalui kementrian desa dan daerah tertinggal untuk semua desa di seluruh Indonesia dimaksudkan untuk memajukan dan membangun desa dari segala ketertinggalan. Dengan membangun segala sarana dan prasana termasuk infrastruktur yang dibutuhkan untuk kemajuan.

Namun maksud tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai yang diharapkan. Masih saja ada penyimpangan yang terjadi. Banyak para pangulu/kepala desa yang tidak mengerti mengalokasikan dana desa tersebut walau sudah diberikan arahan melalui Perbup, Bimtek dan aturan  lainnya.

Tak jarang juga ada beberapa kepala desa / pangulu nakal yang memang secara sengaja menyimpangkan dana desa tersebut untuk kepentingan pribadi dengan tujuan memperkaya diri sendiri.

Salah satu contohnya Pembangunan Rabat Beton di desa / Nagori Dolok Tomuan, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun. Proyek Rabat beton dengan volume/ ukuran 273 m x 2,5 m x 0,15 m  yang dikerjakan oleh TPK Nagori Dolok Tomuan dengan pagu dana / biaya sebesar  Rp 148 juta yang bersumber dari Dana Desa tahun 2016 sepertinya menyimpang dan jauh dari bestek. Proyek itu terdapat di lokasi Dusun I Pasar Baru.

Seperti penuturan salah seorang bermarga Simanjuntak (52) warga masyarakat setempat kepada wartawan , Rabu (2/11/2016) Pembangunan Rabat Beton ini memakai campuran Beton 1 : 2 :  5 dan volume beton  102, 3 m ³. Dalam 1 m³  campuran standarnya memakai atau menghabiskan 8 Sak Semen.  “Jadi dengan volume pekerjaan seperti itu harusnya semen yang dibutuhkan / dipakai adalah sebanyak 818, 3 sak semen sementara jumlah yang dipakai hanya 500 Sak, katanya. Jadi Kesimpulan 318, 3 sak hilang tak tau kemana dibuat Pangulu, katanya lagi menambahkan.

Foto:  Proyek rabat beton yang tidak sesuai bestek
Foto: Proyek rabat beton yang tidak sesuai bestek

Ketika hal ini coba dipertanyakan secara langsung kepada Pangulu nagori di kantornya, tetapi Kantor pangulu sudah tutup.  Dan  ketika wartawan coba mengkomfirmasi melalui seluler, dengan maksud hendak mempertanyakan soal campuran yang tidak sesuai bestek tersebut Pangulu malah mengatakan: “Beritakan saja saya tidak takut, paling paling mau minta uang” kata Pangulu tersebut ketus  sambil menutup telepon selulernya.

Dan ketika coba dikonfirmasi ulang pada hari Kamis (3/11/2016) melalui pesan singkat (SMS) namun tidak mendapatkan balasan. Padahal pesan singkat yang dikirim masuk / terkirim. (M. Baringin P. S)

Tinggalkan Balasan