• Kayu Putih II, Jakarta Timur
  • 0813-1913-0107
  • Jurnalrealitas.com
  • 8 May 2021
0 Comments 37

JURNALREALITAS.COM, KUALA HULU SELATAN, LABURA – Senin, (2/5/2016) bertempat di ruang kepala sekolah yang sekaligus ruang pimpinan Yayasan Madrasah Tsnawiah Islamiyah Gunting Saga, dua wartawan dari Media Jurnal Realitas.com  dan SKM (Surat Kabar Mingguan) Media Bernatas Kriminal mendapat perlakuan tak pantas (sopan) dari pihak kepala sekolah.

Hal itu terjadi saat kedua wartawan media tersebut menyambangi sekolah itu untuk  meminta konfirmasi terkait adanya kutipan dana yang tidak wajar yang dilakukan oleh pihak Yayasan terhadap siswa/i kelas IX Madrasah Tsnawiah Islamiyah Gunting Saga, yang beralamat di Jl. Lintas Sumatera No. 210 Kuala Hulu Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara.

Perlakuan tidak sopan itu terjadi ketika wartawan mempertanyakan sekaligus mengklarifikasi rincian dana kutipan sebesar Rp. 1.200.000 (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) tersebut. Saat wawancara sedang berlangsung, ketua yayasan Drs. Hasan Maksum, MA dengan NIP. 19610105 200003 1 001 memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan wawancara dan segera meninggalkan wartawan.

Saat itu, Hasan Maksum berkilah dirinya dan anak buahnya H. Jasa Partumpuan Aruan, LC akan menjenguk Bupati Kabupaten Labuhan Batu Utara yang sedang sakit keras dan sedang dalam proses bantuan pernafasan. Yang mana saat sesi wawancara beralngsung Jasa Partumpuan Aruan sedang memberikan keterangan terkait kutipan dana tersebut namun diperintahkan untuk segera pergi.

Foto : Drs. Hasan Maksum, MA.
Foto : Drs. Hasan Maksum, MA.

Namun alasan sang kepala sekolah, tidak dibenarkan ketika dikonfirmasi via telpon ke Humas Kabupaten Labuhan Batu Utara, pihak humas mengatakan bahwa informasi (Bupati Labuhan Batu sakit keras) tersebut tidaklah benar. Sehingga saat itu muncul dugaan jika Hasan Maksum hanya mencari alasan untuk menghindari para wartawan.

Terkait dengan sikap sang kepala sekolah ini, wartawan sangat menyayangkan seorang kepala sekolah sekaligus kepala yayasan yang berpendidikan Strata dua (S2) bersikap sangat tidak sopan dan tidak mempunyai etika terhadap media.

Walau mendapat perlakuan tidak menyenangkan, demi mendapat konfirmasi berita wartawan tetap bersabar dan menunggu sang kepala sekolah di ruang kerjanya. Dan tidak berapa lama kemudian  Drs. Hasan Maksum datang dan masuk kembali ke ruang kerjanya. Dan wartawan kembali melakukan wawancara didampingi H. Jasa Partumpuan Aruan selaku kepala sekolah MAN di Yayasan tersebut.

Namun kembali, saat ditanyakan alasan pihak sekolah menarik besarnya biaya sekolah yang dikatakan untuk SPP selama setahun, uang  perpisahan, uang ujian, uang ijazah, uang pengawas ujian, dan lainnya, Hasan Maksun  tidak bersedia menjawab.

Begitu juga dengan aliran dana BOS, pihak sekolah dalam hal ini Hasan Maksun selaku kepala sekolah MTs Islamiyah Gunting Saga, hanya menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dipertanyakan karena menurutnya itu adalah haknya sebagai pemilik sekolah tersebut.

“Ini sekolah sekolah saya. Suka saya. Kalian tidak berhak mempertanyakan atau meminta informasi apapun dari saya, jika kalian tidak mengantungi izin resmi dari Kemenag dan Depdiknas”, timpalnya.

Padahal menurut informasi yang didapatkan dari salah seorang guru yang tidak ingin namanya disebut, bahwa keberadaan Hasan Maksum disekolah tersebut adalah perbantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Sedangkan menurut aturan, tidak dibenarkan seorang ketua yayasan merangkap sebagai seorang kepala sekolah, karena sudah rangkap jabatan.

Ketika ditanyakan lebih jauh, apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan penarikan dana sebesar Rp 1.200.000 tersebut, apakah sudah melalui rapat komite? Jasa Partumpuan mengatakan hal itu telah melalui proses musyawarah. Timbul pertanyaan. Musyawarah denga siapa? Kalau sudah melalui proses musyawarah terlebih dahulu kenapa ada siswa dan orang tua siswa yang berkeberatan??

Ketika hal ini dipertanyakan lebih jauh, kepala sekolah Hasan Maksum langsung memutuskan pembicaraan dan tidak bersedia memberikan jawaban lebih jauh. Tetapi malah mengatakan “ Ayuk pergi. Ini kita sudah terlambat, gak usah kau layani lagi orang ini”, ujarnya.

Kejadian ini menggambarkan pihak sekolah yang sangat menutup diri kepada media, tidak transparan, sehingga muncul dugaan adanya ketidakberesan dalam system administrasi dan management sekolah yang tidak ingin terpublikasi dan diketahui masyarakat.

Selain itu, timbul dugaan jika pihak Yayasan Islamiyah Gunting Saga dalam hal ini kepala sekolah yang merangkap jabatan sebagai Kepala/Ketua Yayasan sengaja menginstruksikan untuk mengutip dana yang cukup besar sebesar Rp. 1.200.000 yang memberatkan siswa-siswinya.

Sebab ketika dimintai kejelasan tentang semua ini sang kepala sekolah tidak bersedia memeberikan keterangan yang transparan tetapi malah sengaja menghindar dengan  menunjukkan sikap yang arogan dan menyepelekan wartawan. (M.B.P.S)

Tinggalkan Balasan