Home » Berita » Di Era Digitalisasi saat ini,Media ajak Institusi agar bijak dan saling pengertian guna terciptanya iklim berita yang terpercaya

Di Era Digitalisasi saat ini,Media ajak Institusi agar bijak dan saling pengertian guna terciptanya iklim berita yang terpercaya

Oplus_16908288

OPINI – Sinergi antara media dan institusi publik di era digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak demi menjaga ruang publik yang sehat.

Ketika arus informasi bergerak begitu cepat, tantangan terbesar bukan lagi mencari berita, melainkan merawat kepercayaan publik.

​Untuk mewujudkan iklim berita yang terpercaya, sinergi ini harus dibangun di atas dua pilar utama: kebijaksanaan dan saling pengertian (mutual understanding).

​1. Peran Institusi: Keterbukaan Informasi dan Kecepatan Respon
​Di era digital, kekosongan informasi (informational vacuum) sangat berbahaya karena bisa langsung diisi oleh hoaks atau spekulasi. Oleh karena itu, institusi diharapkan dapat:

  • ​Menghindari Sikap Antikritik: Melihat media bukan sebagai ancaman atau lawan, melainkan sebagai mitra strategis untuk check and balance serta jembatan edukasi ke masyarakat.
  • ​Menyediakan Data yang Akurat dan Transparan: Memberikan akses informasi yang cepat dan valid agar media tidak terjebak dalam disinformasi akibat lambatnya konfirmasi.
  • ​Memahami Kerja Jurnalistik: Menyadari bahwa media bekerja dengan tenggat waktu (deadline) yang ketat di era digital, sehingga respons yang cepat sangat menentukan akurasi berita.

​2. Peran Media: Profesionalisme dan Edukasi Publik

Kerjasama Kemitraan Media dengan Instansi Kondisi Saat ini, Butuh Saling Pengertian

  • ​Di sisi lain, media memegang tanggung jawab moral dan profesional yang besar. Kecepatan digital tidak boleh mengorbankan akurasi.
  • ​Mengutamakan Verifikasi di Atas Clickbait: Menolak godaan sensasionalisme demi trafik, dan tetap teguh pada kode etik jurnalistik (konfirmasi, disiplin verifikasi, dan keberimbangan).
  • ​Memberikan Narasi yang Edukatif: Tidak hanya melempar isu, tetapi juga memberikan konteks, substansi, dan solusi (misalnya dalam menyosialisasikan kebijakan baru atau reformasi kelembagaan).
  • ​Menjaga Independensi yang Konstruktif: Tetap kritis dan objektif, namun dengan semangat membangun dan menjaga integritas institusi yang sedang bertransformasi ke arah yang lebih baik.

​Membangun Ruang Kolaborasi yang Sehat

  • ​Ketika institusi membuka diri dengan transparansi dan media menyambutnya dengan profesionalisme yang bijak, maka akan tercipta sebuah ekosistem komunikasi yang sehat.​
  • Saling pengertian ini akan meminimalkan miskomunikasi dan menangkal polarisasi digital.
  • Hasil akhirnya adalah masyarakat mendapatkan haknya secara penuh: informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga valid, mencerdaskan, dan dapat dipertanggungjawabkan

​Melihat dinamika digital yang terus berkembang pesat saat ini, menurut Anda langkah konkret apa yang paling mendesak untuk memperkuat mutual understanding ini agar tidak sekadar menjadi slogan, terutama dalam menghadapi isu-isu sensitif?

Jakarta, 10 Juli 2026

Oleh : Syamsul Bahri (Ketum FORSIMEMA-RI)

Elegi Cinta Dua Dunia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement